Halaman

    Social Items


Menjadi penutup saga X-Men versi Fox, Dark Phoenix mengusung dengan kisah yang serupa dengan ending trilogi orisinal X-Men, yaitu Last Stand (2006). Buat kalian yang sudah mengikuti franchise film X-Men sejak 19 tahun lalu, film besutan Simon Kinberg ini seolah menjadi kulminasi dari semua judul yang tergabung di kisah mutan satu ini.


Kisah Transformasi Jean Grey Menjadi Phoenix


Pada rangkaian awal film, kalian akan dibuat terpukau dengan aksi Raven (Jennifer Lawrence), Jean Grey (Sophie Turner), Beast (Nicholas Hoult), Storm (Alexandra Shipp), Quick Silver (Evan Peters), Cyclops (Tye Sheridan), dan Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) dalam menyelamatkan sekelompok astronaut yang terdampar di luar angkasa karena fenomena yang diduga solar flare.

Sudah bisa diduga, misi penyelamat enggak berjalan dengan lancar. Solar flare tadi mulai mendekat dan mengancam jiwa astronaut. Beruntung, kekuatan psikis Jean Grey berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal antariksa dengan selamat. Imbasnya, Grey terpapar oleh solar flare tadi yang ternyata adalah kekuatan kosmik berjuluk Phoenix.

Sempat dikira tewas, Grey akhirnya berhasil selamat tanpa luka apapun. Namun ternyata, kejadian nahas di luar angkasa tersebut melahirkan gejolak di dalam diri sang Dark Phoenix. Emosi mutan satu ini menjadi enggak stabil dan beralih membahayakan orang sekitar. Enggak cuma untuk para mutan, tapi juga bagi seluruh manusia di Bumi.

Melihat ancaman tersebut, Charles Xavier (James McAvoy) dilanda perasaan bersalah. Pasalnya, ia sempat memanipulasi pikiran Grey kala usia dini untuk melindungi anak didiknya ini dari kenangan buruk. Sayangnya, hal ini pula yang membuat Grey merasa dikhianati dan berujung hilangnya rasa percaya terhadap X-Men.


Narasi yang Enggak Berhasil Membuat Empati


Seperti yang kalian tahu, film penutup dari X-Men versi Fox ini mengusung saga Dark Phoenix yang sudah sangat ikonis. Maka, enggak salah jika jutaan penggemar mengharapkan tontonan sarat aksi dan plot yang kuat. Imbasnya, penonton bisa mendapatkan impact yang besar setelah menonton jagoan kesayangan mereka.

Sangat disayangkan, film keluaran 20th Century Fox ini belum bisa memuaskan dahaga penggemar yang haus akan plot kuat nan emosinal. Bukan karena akting buruk dari para pemeran, kalian akan dilanda perasaan hampa di tengah hantaman adegan yang harusnya bisa melahirkan empati.

Saat menyaksikan Jean Grey yang sedang labil, kesedihan dan perasaan putus asa yang ditampilkan enggak tersampaikan dengan baik.

Peran Jessica Chastain di Dark Phoenix juga meninggalkan pertanyaan besar. Didapuk menjadi villain utama berjuluk Vuk, motivasi alien ras D’Bari ini enggak dijelaskan dengan baik. Simon Kinberg selaku sutradara dan penulis enggak memberikan porsi lebih untuk menjelaskan latar belakang D’Bari. Hasilnya, kalian akan dibuat kebingungan dan berpikir “nih cewek maksudnya apa, sih? D’Bari itu siapa?”.

Sosok Vuk enggak digambarkan dengan baik dan seolah hanya menjadi selipan belaka. Kasarannya, tanpa ada Jessica Chastain pun, penonton enggak akan terlalu memikirkan.


Aksi yang Cukup Menghibur



Dilanda masalah dalam hal cerita dan chemistry antar pemain, bukan berarti kalian enggak bisa menikmati Dark Phoenix sebagai tontonan menghibur. Walaupun menjadi film debut Simon Kinberg sebagai sutradara, Dark Phoenix tetap menghadirkan aksi para jagoan mutan yang sukses memukau.

Rangkaian aksi adu kekuatan dipadukan dengan CGI yang digarap matang, menjadi salah satu nilai yang berhasil memukau penonton.

Kalaupun ada sedikit yang kurang, kami merasa porsi Quicksilver terlalu minim. Hanya hadir sebentar di bagian awal dan pertengahan, mutan dengan kecepatan kilat ini enggak tampak di pertempuran terakhir. Entah apa pertimbangan Kinberg untuk menghilangkan peran besar Quicksilver di Dark Phoenix. Pasalnya, sequence mutan ini sukses mengundang decak kagum di film terdahulu dan menjadi hal yang dinanti di Dark Phoenix.


ituDomino - Agen Sakong Online | Bandar66 | Capsa Susun | Bandar Poker | Judi Domino99 | BandarQ | AduQ | Poker Texas Indonesia

Credits : kincir.com

REVIEW : Film Dark Phoenix (2019)


Menjadi penutup saga X-Men versi Fox, Dark Phoenix mengusung dengan kisah yang serupa dengan ending trilogi orisinal X-Men, yaitu Last Stand (2006). Buat kalian yang sudah mengikuti franchise film X-Men sejak 19 tahun lalu, film besutan Simon Kinberg ini seolah menjadi kulminasi dari semua judul yang tergabung di kisah mutan satu ini.


Kisah Transformasi Jean Grey Menjadi Phoenix


Pada rangkaian awal film, kalian akan dibuat terpukau dengan aksi Raven (Jennifer Lawrence), Jean Grey (Sophie Turner), Beast (Nicholas Hoult), Storm (Alexandra Shipp), Quick Silver (Evan Peters), Cyclops (Tye Sheridan), dan Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) dalam menyelamatkan sekelompok astronaut yang terdampar di luar angkasa karena fenomena yang diduga solar flare.

Sudah bisa diduga, misi penyelamat enggak berjalan dengan lancar. Solar flare tadi mulai mendekat dan mengancam jiwa astronaut. Beruntung, kekuatan psikis Jean Grey berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal antariksa dengan selamat. Imbasnya, Grey terpapar oleh solar flare tadi yang ternyata adalah kekuatan kosmik berjuluk Phoenix.

Sempat dikira tewas, Grey akhirnya berhasil selamat tanpa luka apapun. Namun ternyata, kejadian nahas di luar angkasa tersebut melahirkan gejolak di dalam diri sang Dark Phoenix. Emosi mutan satu ini menjadi enggak stabil dan beralih membahayakan orang sekitar. Enggak cuma untuk para mutan, tapi juga bagi seluruh manusia di Bumi.

Melihat ancaman tersebut, Charles Xavier (James McAvoy) dilanda perasaan bersalah. Pasalnya, ia sempat memanipulasi pikiran Grey kala usia dini untuk melindungi anak didiknya ini dari kenangan buruk. Sayangnya, hal ini pula yang membuat Grey merasa dikhianati dan berujung hilangnya rasa percaya terhadap X-Men.


Narasi yang Enggak Berhasil Membuat Empati


Seperti yang kalian tahu, film penutup dari X-Men versi Fox ini mengusung saga Dark Phoenix yang sudah sangat ikonis. Maka, enggak salah jika jutaan penggemar mengharapkan tontonan sarat aksi dan plot yang kuat. Imbasnya, penonton bisa mendapatkan impact yang besar setelah menonton jagoan kesayangan mereka.

Sangat disayangkan, film keluaran 20th Century Fox ini belum bisa memuaskan dahaga penggemar yang haus akan plot kuat nan emosinal. Bukan karena akting buruk dari para pemeran, kalian akan dilanda perasaan hampa di tengah hantaman adegan yang harusnya bisa melahirkan empati.

Saat menyaksikan Jean Grey yang sedang labil, kesedihan dan perasaan putus asa yang ditampilkan enggak tersampaikan dengan baik.

Peran Jessica Chastain di Dark Phoenix juga meninggalkan pertanyaan besar. Didapuk menjadi villain utama berjuluk Vuk, motivasi alien ras D’Bari ini enggak dijelaskan dengan baik. Simon Kinberg selaku sutradara dan penulis enggak memberikan porsi lebih untuk menjelaskan latar belakang D’Bari. Hasilnya, kalian akan dibuat kebingungan dan berpikir “nih cewek maksudnya apa, sih? D’Bari itu siapa?”.

Sosok Vuk enggak digambarkan dengan baik dan seolah hanya menjadi selipan belaka. Kasarannya, tanpa ada Jessica Chastain pun, penonton enggak akan terlalu memikirkan.


Aksi yang Cukup Menghibur



Dilanda masalah dalam hal cerita dan chemistry antar pemain, bukan berarti kalian enggak bisa menikmati Dark Phoenix sebagai tontonan menghibur. Walaupun menjadi film debut Simon Kinberg sebagai sutradara, Dark Phoenix tetap menghadirkan aksi para jagoan mutan yang sukses memukau.

Rangkaian aksi adu kekuatan dipadukan dengan CGI yang digarap matang, menjadi salah satu nilai yang berhasil memukau penonton.

Kalaupun ada sedikit yang kurang, kami merasa porsi Quicksilver terlalu minim. Hanya hadir sebentar di bagian awal dan pertengahan, mutan dengan kecepatan kilat ini enggak tampak di pertempuran terakhir. Entah apa pertimbangan Kinberg untuk menghilangkan peran besar Quicksilver di Dark Phoenix. Pasalnya, sequence mutan ini sukses mengundang decak kagum di film terdahulu dan menjadi hal yang dinanti di Dark Phoenix.


ituDomino - Agen Sakong Online | Bandar66 | Capsa Susun | Bandar Poker | Judi Domino99 | BandarQ | AduQ | Poker Texas Indonesia

Credits : kincir.com

Tidak ada komentar